MyBaliTransport
Hextag
hotline +62 851 00 788 255
  • en translate
  • de translate
  • nl translate
  • cn translate
  • jp translate

Sejarah Pariwisata di Bali

...

Penyebaran informasi mengenai Pulau Bali baik melalui karya sastra tulisan dan gambar, maupun  cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara dari sejak dulu. Bahkan hingga  kini nama BALI masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.

My Bali Transport menggambarkan tentang sejarah pariwisata dan perkembangan pariwisata di Pulau Bali....

Abad 6 : Jaman dahulu Bali sudah dituju sebagai tempat untuk melakukan pencarian dan perjalanan  oleh para penekun spiritual. Rsi Markandeya tercatat sebagai tokoh spiritual dari Jawa yang pertama kali menjejakkan kaki di Bali. Perjalanan untuk melakukan pencarian kesucian batin dan keseimbangan alam lalu menempatkan tonggak tatanan agama Hindu di lereng selatan Gunung Agung yang kini dikenal sebagai Pura Besakih. 

Abad 11 : Kemudian datanglah Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Murti di Bali 

Abad 16 : Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) ke Bali dengan misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara


1597 : Perjalanan wisata internasional di Bali dimulai saat orang Belanda dengan ekspedisi yang dipimpin Cornellis de Houtman dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah, masuk ke Indonesia. Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Mereka tidak menemukan rempah-rempah, hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang unik, alamnya sangat indah dan mempunyai daya tarik tersendiri berbeda dengan daerah lain. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. 

Abad 20 : Berbarengan dengan Indonesia yang dikenal sebagai penghasil rempah-rempah, Bali mulai dikenal dunia dari sisi budaya. Penguasaan Belanda terhadap Indonesia pun pada sekitar abad 17 dan 18, tidak banyak memberi pengaruh pada kehidupan agama dan budaya di Bali. 

1906 : Militer Belanda tiba di Pantai Sanur dan dengan pasukan berbaris menuju istana kerajaan Puri di Denpasar. Dengan tujuan untuk bertemu dengan raja Puri Agung Denpasar di istananya karena telah menolak memberikan Ganti Rugi tuntutan dan fitnah yang dituduhkan. Dengan berpakaian ritual putih, Raja, keluarga beserta pengikut setia lainnya mengadakan pertempuran melawan Belanda dengan senjata keris dan tombak. Melawan pantang menyerah, berperang sampai titik darah penghabisan untuk membela kebenaran yang luhur. Ritual Puputan ini terulang sore itu di Puri Pemecutan dan dua hari kemudian di pelataran Raja Tabanan. Saat itulah dikenal dengan nama Puputan Badung. 7000 orang Bali tewas dalam Sejarah Perang Puputan Badung pada 20 September 1906 ini.
 

1908 : Puputan Klungkung terjadi di Gelgel. Belanda memborbardir istana Smarapura, Gelgel, dan Satria dengan tembakan meriam selama enam hari berturut-turut. 28 April 1908, Raja Klungkung Dewa Agung Jambe bersama kerabat, putra mahkota, pasukan dan rakyat yang setia gugur membela kedaulatan kerajaan dan rakyat Klungkung menunaikan dharmaning ksatria, kewajiban tertinggi seorang ksatria sejati.  

1914 : Setelah Bali dianggap cukup damai, pemerintah Hindia Belanda menggantikan peran tentara kependudukan dengan petugas sipil. Pada waktu Bali sudah bisa dapat dicapai dari Surabaya dengan kapal. Begitu tiba di Bali pengunjung menyewa kuda atau kereta kuda untuk perjalanannya. Mereka dapat memakai pesanggrahan-pesanggarahan yang kosong yang disediakan untuk pejabat kolonial pada waktu mereka inspeksi keliling.

1917 : Dibangun jaringan jalan yang menghubungkan desa Pengastulan ke Tejakula melalui Pabean, Buleleng dan Sangsit. Begitu juga sejumlah jembatan seperti di atas sungai menghubungkan jalan dari Singaraja ke Celukan Bawang. Pada tahun berikutnya sebuah jembatan yang melengkapi jalan dari Singaraja melalui Pupuan dan Tabanan ke Kota Denpasar. Singaraja sebagai pusat pemerintahan Pulau Bali memiliki tiga jalur jaringan lalu lintas. Pertama : menuju Kubutambahan dan Kintamani menuju Denpasar sepanjang 118 Km. Kedua : jalur Singaraja, Bubunan dan Pupuan sepanjang 113 km. Ketiga : melalui Danau Bratan hanya 78 km.


1920 : Wisatawan Eropa mulai datang ke Bali, mereka adalah sastrawan, fotographer, seniman, dan lainnya. Mereka datang bersama kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) dan wisatawan itu memperkenalkan Bali di Eropa sebagai `the Island of God`.
Dr Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. 

1924 : Wisatawan secara khusus datang ke Bali setelah dibuka pelayaran mingguan antara Singapura, Batavia, Semarang, Surabaya singgah di Buleleng (Pelabuhan Singaraja) baru kemudian ke Makassar. Perwakilan KPM di Singaraja diangkat sebagai wakil resmi Nederlandche Indische Touristen Bureau di Bali. Tahun ini tercatat 213 pelancong yang datang ke Bali. 

1926 : Majalah Tourism in Netherlands East Indies edisi 8 Februari 1927  mencatat sebanyak 480 wisatawan mengunjungi Bali. Majalah ini menawarkan paket wisata termasuk akomodasi bagi mereka yang ingin menyaksikan upacara Ngaben di Karangasem Bali pada Mei 1927. Disebutkan peminat akan diangkut dengan kapal Swartbandt yang bertolak dari Surabaya. Sesampainya di Bali para wisatawan disediakan mobil dan menginap di pesanggarahan milik pemerintah.

1927 : Di antara para pelancong yang terkemuka antara lain Brigadir Jendral L.C.Koe dari Angkatan perang Inggris yang datang bersama istrinya ke Bali Januari 1927. 

1928 : KPM membuka Bali Hotel sebagai pengganti pesanggrahan di Denpasar (the Leading House in Bali). Selain itu terdapat pesanggrahan Kintamani untuk melihat obyek wisata Danau Batur.
Referensi utama wisatawan berdasarkan hasil pengamatan dari Walter Spies seorang pelukis dan musikus berkebangsaan Jerman yang menetap di Bali pada 1927 dan hingga waktu Perang Dunia ke II. Dia menjadi pemandu bagi para seniman, pelukis dan tokoh yang berkunjung ke Bali. Wisatawan singgah di rumahnya di Ubud. Walter Spies memperkenalkan kepada dunia tentang kekayaan dan keanekaragaman budaya Bali, disamping kecantikan wanita Bali. Rumah Spies di Ubud kerap kedatangan seniman dan intelektual Eropa. Antropolog Margaret Mead (asal Amerika), pelukis Miguel Covarrubias (Meksiko) bukunya the Island of Bali tahun 1930, aktor Charlie Chaplin (Amerika), Andrian Vickers dalam bukunya Bali Paradise Creatid, Vicki Baum seorang Novelis Bahasa Inggris dengan bukunya Love and Death in Bali, hingga seksolog Magnus Hirschfeld (Jerman) pernah menjadi tamunya. Spies dan Beryl de Zoete menulis Dance & Drama in Bali, salah satu catatan paling awal tentang tari dan drama di luar budaya Barat. Dia juga terlibat dalam pembuatan film `The Island of Demons` bersama Baron Viktor van Plessen. Spies mendanai pembuatan film itu dari uang warisan pemberian Friederich Murnau yang meninggal pada 1931. Film itu punya pengaruh besar pada persepsi dunia tentang Bali. 
Pada 1936 Spies mendirikan kelompok seniman Pita Maha bersama Rudolf Bonnet (pendiri Museum Ratna Warta, Gusti Nyoman Lempad, dan Tjokorda Gde Agung Sukawati. Mereka melestarikan seni rupa Bali yang mulai berubah menjadi seni pesanan demi memenuhi permintaan turis. Pita Maha membuka cakrawala bagi para pelukis Bali dalam hal tema, pewarnaan, hingga perspektif dan permainan cahaya.


Disamping itu terdapat wisatawan lain dari golongan sastrawan dan seniman yang memberi pengaruh banyak terhadap sejarah perkembangan pariwsata Pulau Bali, mempopulerkan Bali dengan karya-karya mereka yang spekatuler di dunia antara lain adalah musisian Collin Mc Phee dan penulis antropoligist Jane Bello (Canada), sastrawan Dr Roelof Goris (Belanda) dengan bukunya Prasasti Bali `Chartes de Bali` di Bali tahun 1928, novelis Louis Marie-Anne Couperus (Belanda).

Sastrawan dan pejuang Muriel Pearson (Amerika) dengan sebutan nama lain selama di Indonesia adalah  Miss Walker, Miss Tenchery, Mrs Muriel Pearson, Mrs Manx, Miss Daventry, Surabaya Sue, K'tut Tantri, Ni Ketut Tantri, Miss Oestermann, Sally van de As dengan buku terkenalnya `Revolt In Paradise`

Pelukis Le Mayeur (Belgia) beristrikan gadis Bali, menetap di Sanur Bali Museum Le Mayeur. Pelukis Antonio Blanco (Spanyol) beristrikan orang Bali Ni Ronji kemudian menetap di Ubud Museum Antonio Blanco. Pelukis terkenal Adrianus Wilhelmus (Arie) Smit karyanya dapat anda lihat di Museum Neka.

1933 : Dibukanya jalur penerbangan Surabaya dan Bali

1934 : Dibukanya pelayaran bolak-balik Gilimanuk dan Banyuwangi. Kebanyakan pelancong ini hanya tinggal selama tiga hari di Bali. Mereka tiba di Buleleng hari Jum’at pagi berangkat dan pulang dengan kapal yang sama pada Minggu malam. Kecuali mereka yang suka petualang menginap di Bali selama sepuluh hari sambil menanti kapal berikutnya. Setelah mendarat di Buelleng pada hari Jum’at menjelang matahari terbit, wisatawan menyewa mobil berikut pemandu wisata dengan bantuan biro pariwisata.Para wisatawan menelusuri jalan pantai menuju Bubunan di barat, lalu membelok ke pesanggarahan Munduk, tempat mereka dapat melanjutkan kunjungan ke daerah sekitar dengan berkuda ke Danau Tamblingan dan Buyan. 
Pada sore hari meeka turun ke Denpasar melalui Tabanan dan menginap di Bali Hotel. Seusia makan malam mereka disajikan acara kesenian berupa tarian pribumi. Museum Bali, Bedulu Goa Gajah, Tampak Siring, Pejeng, Gia lawah adalah obyek wisata yang dikunjungi saat itu. Pada Minggu pagi wisatawan berkunjung ke Bangli melihat Pura Kehen sebelum menuju Penelokan Kintamani. Biasanya mereka makan siang di Pesanggarahan Kintamani, lalu kembali ke Singaraja untuk naik Kapal KPM.


1936 : Sepasang suami istri dari Amerika Bob, berprofesi sebagai fotografer dan Louise Koke, pelukis tiba di Bali, dari Singaraja dengan kapal ke Denpasar. Dalam buku `Our Hotel in Bali` yang ditulisnya, digambarkan bahwa hotel di Bali pada waktu itu sudah mempunyai kamar mandi modern dengan air panas. Dan buku ini banyak terpengaruh eksotisme yang banyak mengumbar foto sensualitas perempuan Bali dengan pakaian dada terbuka sebagai hal aneh bagi orang-orang Barat saat itu.

1942 : Perang Dunia ke II, sejumlah orang Jerman dan Belanda termasuk Walter Spies ditangkap. Dia bersama tawanan Jerman dikirim ke luar Bali. Namun di tengah jalan kapal itu ditenggelamkan oleh armada Jepang. Walter Spies termasuk yang terbunuh. Pada 19 Februari 1942 tentara Angkatan Darat Jepang mendarat di Pantai Sanur tanpa perlawanan dari serdadu Hindia Belanda. 

1946 : Setelah proklamasi kemerdekaan Mr. I Gusti Ketut Pudja tiba dari Jakarta untuk menjadi Gubernur Sunda Kecil. Seperti banyak daerah lain Bali juga mengadakan perlawanan terhadap kedatangan kembali tentara Belanda di Bali. Seperti yang dilakukan I Gusti Ngurah Rai yang dikenal dengan Puputan Margarana pada 20 November 1946.

1950 : Bali pelan-pelan pulih sebagai suatu tempat tujuan wisata. Pulau Bali dikabarkan aman bagi wisatawan yang menginap di hotel. Dunia hiburan mulai menggeliat, Denpasar pada 1950-an sudah mempunyai tiga buah bioskop dan singaraja tiga buah. Saat itu sudah tidak ada lagi perempuan yang tidak memakai baju. Wisatawan yang datang sudah mulai ditangani dengan baik oleh masyarakat dan raja saat itu.

1953 : A.A.Panji Tisna mulai membangun tempat istirahat di tepi pantai Kampung Baru, desa Tukad Cebol (sekarang desa Kaliasem). Selain dibangun restoran juga dibangun 3 kamar tamu. Dan tiga tahun kemudian dunia pariwisata Bali mencatat sejarah baru, ketika Ida Bagus Kompiang dan Anak Agung Mirah Astuti menjadi pengusaha pribumi yang membangun hotel pertama di kawasan Sanur, Denpasar, yang diberi nama Hotel Segara Beach.

1955 : Perhatian pemerintah juga mulai terasa sesudah tahun 1950-an, ketika Presiden Soekarno membawa tamu-tamu Negara ke Bali. Kisaran 1952-1965, Soekarno banyak mengirim misi kesenian ke luar negeri. Misinya mengenalkan Republik Indonesia ke seluruh dunia. Ratusan penari rentang tahun itu dikerahkan. Mereka dikirim tak hanya ke negara-negara Asia, seperti Bangladesh, Cina, Jepang, dan Korea Utara, tapi juga Rusia dan Eropa Timur (Ceko, Hungaria, dan Polandia), Eropa Barat (Belanda dan Paris), Afrika (Tanzania), serta Amerika (New York)

1956 :  Kepariwisataan dan infrastruktur pembangungan di Bali dibenahi kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (the Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 10 (sepuluh) tingginya lebih dari 15 meter. Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tingkat I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor : 13/Perbang.1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Provinsi Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter. 

1969 : Tepatnya di bulan Agustus diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai Bandar Udara Internasional. Hingga kini daerah tujuan wisata di Bali dan akses serta sarana penunjang lainnya untuk mendukung kepariwisataan di Bali sudah dilakukan perbaikannya. Dan wisatawan yang datang ke Bali saat ini tidak hanya dari benua Eropa, juga benua Asia, Australia, Amerika, Afrika dan lainnya. 

2002 : Serangan teroris telah terjadi pada 12 Oktober 2002, berupa serangan Bom Bali 2002 (Bom Bali 1) di kawasan pariwisata Pantai Kuta, menyebabkan sebanyak 202 orang tewas dan 209 orang lainnya cedera. Serangan Bom Bali 2005 (Bom Bali 2) juga terjadi tiga tahun kemudian di Kuta dan pantai Jimbaran. Kejadian-kejadian tersebut mendapat liputan internasional yang luas karena sebagian besar korbannya adalah wisatawan asing dan menyebabkan industri pariwisata Bali menghadapi tantangan berat. Hingga pelaku serangan Bom Bali sudah ditangkap dan dihukum berat.


Bali merupakan Pulau di Indonesia yang cinta damai. Masyarakat di Bali sangat menjaga kerukunan antar umatnya. Wisatawan yang berkunjung ke Bali merasa nyaman dengan keadaan Bali yang aman dan tentram. Dan tidak hanya masyarakat Bali saja, tetapi juga wisatawan yang datang ke Bali selalu turut menjaga Bali. 

...........`Tat  Twam  Asi`.............
“aku adalah engkau, engkau adalah aku”. 

Berbagai julukan diberikan kepada Bali sebagai Pulau wisata 
antara lain :
The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World
The Last Paradise on Earth
...

Yang menarik lainnya

...

LAYANAN

...

Berikut adalah beberapa layanan yang kami berikan untuk Anda.

RENT CAR

Kami menyediakan beragam pilihan kendaraan yang aman dan nyaman dengan tarif bersaing.

TIKET PESAWAT

Kami juga melayani booking tiket pesawat dari berbagai maskapai. Waktu dan destinasi Anda yang menentukan.

HOTEL RESERVATION

Anda bisa melakukan booking hotel dengan leluasa. Kami akan memberikan list hotel sesuai dengan keinginan dan budget Anda.

PAKET TOUR

Kami memiliki beragam paket wisata di Bali, mulai dari yang adventurous hingga bulan madu yang romantis.

PEMESANAN

...

Untuk melakukan pemesanan silahkan isi form dibawah ini.
Sertakan nama paket dalam kolom pesanan.

PEMESANAN

ALAMAT KAMI

  • Jalan Diponegoro No.160, Pertokoan IDT Genteng Biru A-26, Denpasar 80119
    Bali - Indonesia
  • (+62) 851 00 788 255
  • info@mybalitransport.com
  • 9.00am - 5.00pm